Pages

Showing posts with label Cerita. Show all posts
Showing posts with label Cerita. Show all posts

Tuesday, January 5, 2016

Jadilah 'langit' jika tidak bisa menjadi 'bintang'




Dokter

          Kalau mendengar kata itu pasti terlintas di benak kita "jas putih dengan stetoskop menggantung di leher", "cerdas" , "keren" , "masa depan cerah" , dan lain sebagainya. Ketika masih dimasa Sekolah Menengah Atas, dokter adalah cita-cita yang paling aku dambakan, tidak bukan aku saja, tapi bahkan kebanyakan anak muda. Bukan karena ingin dibilang "keren" , "cerdas" atau lain sebagainya saat itu, tapi karena orang tua. Kala itu aku sadar, semakin lama mereka terlihat semakin letih, dan rambut putih sudah mulai mengganti rambut mereka yg hitam. Disaat itulah aku memutuskan untuk bercita-cita menjadi seorang dokter, berharap suatu saat nanti bisa merawat mereka kelak di masa tuanya. 

          Namun, seiring berjalannya waktu, pada kenyataannya dokter bukanlah jalan hidupku. Faktanya kini aku lulusan diploma 3 teknik elektro, sungguh diluar perkiraan sebelumnya. Cita-cita yang dulu menjadi penyemangat kini sudah terkubur dalam-dalam, dan tergantikan oleh semangat baru. Mungkin iya, aku tidak akan menjadi seorang dokter, tapi jika dilihat dan diingat kembali, hakekatnya aku hanya ingin 'merawat orang tua kelak dimasa tuanya', lantas terlintas pertanyaan "apakah harus menjadi dokter untuk melakukan itu?". Dikala muda dengan egonya, tentu jawaban tegas pasti keluar dari mulut kita masing-masing. Namun, seiring bertambahnya usia, semakin dewasa cara berpikir, aku pun belajar banyak hal, dan tentu keinginan untuk 'merawat orang tua dimasa tuanya' masih menjadi penyemangat hidup.

Seorang anak muda ingin mencoba mendaki gunung
tentu ia harus mempersiapkan
segala hal yang diperlukan
kemudian,

Semua itu dimulai dengan sebuah langkah awal dari perjalanan yang panjang
tidaklah mudah, seiring keinginan mendaki gunung yang tinggi
batu kerikil, hujan, dan segala sesuatu yang ada di alam
akan mencoba menghalangi setiap langkah,

akan tiba juga saatnya tubuh itu harus beristirahat sejenak
lakukanlah, janganlah mencoba menghindar dari itu
namun ingat, jangan sampai lupakan
tujuan utamamu,

Dengan segala kerja keras, doa, dan ridho dari yang Maha Kuasa
Akhirnya, ia akan berada di puncak yang tertinggi
dari gunung yang telah didaki,

ia melihat ke atas, langit malam yang ditaburi bintang
ia sadar akan suatu hal, pemikiran jernih
jika tidak bisa menjadi 'bintang'
bisakah aku menjadi 'langit'?

(Dori Saka Pradito)

          (Sumber gambar : wiranurmansyah.com)

          Buat adik-adik yang sebentar lagi akan berjuang, untuk selangkah lagi mengejar cita-citanya, jangan menyerah, dan lakukanlah yang terbaik. Apapun hasilnya, akan ada jalan bagi setiap jiwa suci yang berlapang dada, dan selalu akan ada semangat baru. Sampai jumpa di entri selanjutnya.

Friday, November 20, 2015

Kisah Sedih Nenek Penjual Kue



HARI ini sesosok wanita tua mengetuk pintu kaca toko. “Bu… Beli kue saya… Belum laku satupun… Kalau saya sudah ada yang laku saya enggak berani ketuk kaca toko ibu…”“Ibu bawa kue apa?”
“Gemblong, getuk, bintul, gembleng, Bu.”

Saya tersenyum… “Saya nanti beli kue ibu… Tapi ibu duduk dulu, minum dulu, istirahat dulu, muka ibu sudah pucat.”Dia mengangguk. “Kepala saya sakit, Bu.. Pusing, tapi harus cari uang. Anak saya sakit, suami saya sakit, di rumah hari ini beras udah gak ada sama sekali. Makanya saya paksain jualan,” katanya sambil memegang keningnya. Air matanya mulai jatuh.“Sekarang makan makin susah, Bu…. Kemarin aja beras gak kebeli… Apalagi sekarang… Katanya bensin naik.. Apa-apa serba naik.. Saya udah 3 bulan cuma bisa bikin bubur… Kalau masak nasi gak cukup. Hari ini jualan gak laku, nawarin orang katanya gak jajan dulu. Apa apa pada mahal katanya uang belanjanya pada enggak cukup…”“Anak ibu sakit apa?” Saya bertanya.“Gak tau, Bu… Batuknya berdarah…”Saya terpana. “Ibu, Ibu harus bawa anak Ibu ke puskesmas. Kan ada BPJS…”Dia cuma tertunduk. “Saya bawa anak saya pakai apa, Bu? Gendong gak kuat.. .Jalannya jauh… Naik ojek gak punya uang…”“Ini Ibu kue bikin sendiri?”
“Enggak, Bu… Ini saya ngambil.” jawabnya.
“Terus ibu penghasilannya dari sini aja?”
Dia mengangguk lemah…
“Berapa Ibu dapet setiap hari?”
“Gak pasti, Bu… Ini kue untungnya 100-300 perak, bisa dapet Rp4 ribu -12 ribu paling banyak.”

Kali ini air mata saya yang mulai mengalir. “Ibu pulang jam berapa jualan?”“Jam 2.. .Saya gak bisa lama lama, Bu.. Soalnya uangnya buat beli beras… Suami sama anak saya belum makan. Saya gak mau minta-minta, saya gak mau nyusahin orang.”“Ibu, kue-kue ini tolong ibu bagi-bagi di jalan, ini beli beras buat 1 bulan, ini buat 10x bulak-balik naik ojek bawa anak Ibu berobat, ini buat modal ibu jualan sendiri. Ibu sekarang pulang saja… Bawa kurma ini buat pengganjal lapar…”Ibu itu menangis… Dia pindah dari kursi ke lantai, dia bersujud tak sepatah katapun keluar lalu dia kembalikan uang saya. “Kalau ibu mau beli.. Beli lah kue saya. Tapi selebihnya enggak bu… Saya malu….”Saya pegang erat tangannya… “Ibu… Ini bukan buat ibu… Tapi buat ibu saya… Saya melakukan bakti ini untuk ibu saya, agar dia merasa tidak sia-sia membesarkan dan mendidik saya… Tolong diterima…” Saya bawa keranjang jualannya. Saat itu aku memegang lengannya dan saya menyadari dia demam tinggi. “Ibu pulang ya…”Dia cuma bercucuran airmata lalu memeluk saya. “Bu.. Saya gak mau ke sini lagi… Saya malu…. Ibu gak doyan kue jualan saya… Ibu cuma kasihan sama saya… Saya malu”Saya cuma bisa tersenyum. “Ibu, saya doyan kue jualan Ibu, tapi saya kenyang… Sementara di luar pasti banyak yang lapar dan belum tentu punya makanan. Sekarang Ibu pulang yaa”Saya bimbing beliau menyeberang jalan, lalu saya naikkan angkot Beliau terus berurai air mata.
Ingatlah hidup patut disyukuri, jika kita tergolong orang yg berlebih, kita harus menolong orang yg kurang beruntung seperti kita. Diluar sana masih banyak yang butuh pertolongan dan kebaikan dari orang-orang yang dermawan. Hidup hanya sekali, dunia ini hanya sementara, untuk tabungan jika kita sudah didunia akherat yang kekal nanti.
Silahkan di LIKE dan SHARE.

source : line

Sunday, October 18, 2015

Menjadi Seorang Pribadi yang Baik

(Sumber : koleksi pribadi)


        Ada tweet temen yang bilang gini "Jadi orang baek ga susah, tapi disusahin orang". Terlintas seperti guyonan namun terdengar serius. Menjadi orang baik memang tidak semudah seperti dalam benak setiap orang. Justru akan ada banyak hal-hal sulit yang dihadapi, yang akan menguras tenaga, pikiran, bahkan perasaan. Menjadi orang baik patutnya merupakan komitmen dalam diri setiap insan manusia. Sebenarnya tidak ada takaran, perhitungan, bahkan aturan yang pasti mengenai seseorang untuk dikatakan sebagai pribadi yang baik, justru dari orang-orang sekitarlah kita bisa mengetahui apakah diri kita sudah layak dikatakan pribadi yang baik atau belum. Saya menulis mengenai hal ini bukan berarti bahwa saya mengatakan diri saya adalah pribadi yang baik. Justru saya menulis mengenai hal ini melainkan untuk sebagai bahan introspeksi diri saya sendiri agar semakin lebih baik kedepannya, karena saya juga manusia biasa yang tidak luput dari dosa. Berikut adalah sikap-sikap yang biasa dilakukan oleh seorang pribadi yang baik :


1. Taat Beribadah
       Hal ini merupakan poin utama dalam diri seseorang. Memang tidak seluruh orang yang taat beribadah itu memiliki kepribadian yang baik, namun setidaknya dia melaksanakan perintah atas kewajibannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Ingatlah bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam diri kita, bahkan hal-hal yang terjadi didunia ini, tidak lain merupakan kehendak dari yang Maha Kuasa. Dengan seiring patuhnya seseorang terhadap perintah tuhannya, maka lambat laun hal itu akan berdampak pula pada kepribadian orang tersebut. Ingatlah bahwa Tuhan selalu memainkan peranan penting dalam setiap hambanya.


2. Jujur
      Tiada perkataan yang paling baik didunia ini melainkan kata-kata yang jujur dari mulut seseorang. Namun banyak orang yang salah dalam mengartikannya. Kebiasaan orang mengatakan hal yang jujur untuk menceritakan kejelekan seseorang kepada temannya, hal ini adalah kebiasaan yang paling sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, mengatakan suatu hal yang menyakitkan perasaan orang lain. Tentu jika seorang pribadi yang biasa berkata jujur, akan selalu mengerti perasaan terhadap lawan bicaranya. Jika memang tidak sanggup berkata jujur atau berterus terang, cobalah untuk tutup mulut, diam, atau bahkan mengalihkan pembicaraan. Untuk saat ini mulailah berlatih untuk berkata yang jujur, untuk kebaikan diri sendiri maupun untuk orang disekitar kita.


3. Bersikap Bijaksana
        Apakah kalian berpikir bahwa aku akan mengatakan bahwa orang yang baik adalah orang-orang yang notabene berusia lanjut? tentu saja bukan seperti itu yang saya maksudkan. Seorang yang bijaksana tidak tergantung dari umurnya yang semakin menua. Seorang yang bijaksana adalah seorang yang mampu membuat keputusan yang dianggap paling baik, untuk orang lain bahkan juga untuk dirinya sendiri, dan merupakan seorang yang selalu memikirkan terlebih dahulu sebelum bertindak. Pada umumnya orang-orang yang bijaksana adalah orang-orang dewasa yang memiliki pemikiran yang matang. Oleh karena itu, kalian pasti pernah mendengar istilah orang yang dewasa sebelum waktunya. Sebenarnya yang ingin saya tekankan dalam hal ini adalah bahwa seorang pribadi yang baik itu belum tentu bersikap bijaksana, namun orang yang bersikap bijaksana tentu sudah menjadi pribadi yang baik. Saya berikan salah satu contoh seperti ini : Ketika kalian dalam keadaan sangat lapar dan hanya memiliki sepotong roti, kemudian saat itu kalian mendapati seseorang yang juga dalam kondisi yang sama, apa yang akan kalian lakukan? (tentu orang yang menjawab bahwa ia akan memakan roti tersebut seluruhnya adalah orang yang tidak akan mungkin membaca pos yang saya tulis ini). Ada dua kemungkinan jawaban : 1. Kalian akan memberikan seluruh roti kepada orang tersebut 2. Kalian akan memberikan sebagian roti kepada orang tersebut. Menurut kalian manakah yang disebut sebagai seorang pribadi yang baik? dan mana yang disebut sebagai pribadi yang bijaksana? tentu jawabannya adalah kedua jawaban tersebut adalah indikasi pribadi yang baik, namun jawaban nomor dua adalah jawaban seorang yang bijaksana. Mungkin seperti itulah contohnya membedakan seorang yang mutlak bersikap baik dan seorang yang bersikap bijaksana.


 4. Selalu Bertutur Kata yang Sopan juga Santun
        Pada poin keempat ini, sebenarnya saling berkaitan dengan poin kedua, karena sama-sama mengenai kebiasaan seseorang dalam berbicara. Namun saya buatkan poin khusus, agar menjadi perhatian tersendiri bagi setiap orang yang hendak menjadi seorang pribadi yang baik, karena tidak jarang kita jumpai dikehidupan sehari-hari orang yang berkata kasar, kata-kata yang tidak baik yang tidak patut didengar oleh setiap orang. Hal ini telah menjadi kebiasaan dalam setiap remaja bahkan anak-anak yang masih kecil yang terjebak dalam pergaulan yang tidak sehat. Tidak hanya berkata sedemikian buruk terhadap temannya, bahkan mengumpat orang tuanya sendiri. Tentu sangat sulit bagi seseorang yang terbiasa berkata yang tidak baik untuk berubah sepenuhnya menjadi sebaliknya. Hal itu dapat dilakukan dengan mengurangi bahkan menjauhi pergaulan yang berpotensi atau bahkan tidak sehat seperti orang-orang yang perokok, peminum, penjudi, penzina, pengguna narkoba, ataupun kombinasi dari sebagian maupun seluruhnya. Jika telah mampu mengatasi hal tersebut, barulah kalian kembali lagi ke poin yang pertama, yaitu : taat beribadah.


        Sebenarnya mungkin ada beberapa poin lain juga yang bisa menjadi bahan untuk menjadikan diri kita menjadi pribadi yang baik seperti bersikap sabar, bersikap tolerir, dan lain sebagainya. Selain itu juga menjadi orang baik adalah sebuah pilihan dalam setiap diri seseorang. Tentu setiap orang tahu bahwa Tuhan sangat menyayangi hambanya yang selalu bersikap baik. Aku percaya "Terkadang bunga yang terindah akan dipetik lebih awal daripada bunga yang lainnya, tepat sebelum bunga tersebut layu, dan mati".

Wednesday, October 14, 2015

Apakah Anak-ku harus rangking 1?

(Ilustrasi gambar, sumber : www.thetinhouse.blogspot.co.id)

Si Ranking 23 : “Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan”


        Di kelasnya terdapat 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar,namun ternyata anak kami  menerimanya dengan senang hati.
        Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja. Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak kami rangking nomor 23 dan tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya begitu bersinar-sinar.
        Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati kepada anak kami: “Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa?” Anak kami menjawab: “Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian yang luar biasa”. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.
        Pada pertengahan musim, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di sebuah restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan bahwa kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.
        Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sangat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari lalu bermain-main. Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: “Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang”. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.

        Sepulangnya kami kembali ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK?
        Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah?
      Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.
        Anak kami juga sangat penurut, dia tidak lagi membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu tidak dilakukan lagi.
        Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan terus tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat semakin kurus. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja rangking 23. Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku kondisinya semakin pucat saja.
        Apalagi, setiap kali akan menghadapi ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi tekanan, dan membantunya tumbuh normal.
Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram damai kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak memahami akan nilai sekolahnya.
        Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.
        Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan sangat gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk mengawasi bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat sedikit miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap wadah sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.
        Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggris. Kedua anak ini secara bersamaan berebut sebuah kue beras yang di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau saling membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara yang sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

        Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku membuat guyonan dan terus membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio-nya masing-masing.
        Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.
          Selepas ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.
        Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama lebih dari 30 tahun mengajar.
 
         Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku. Alasannya pun sangat beragam : antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.

        Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: “Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu”.

        Saya bercanda pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”
        Dia pun pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi Pahlawan aku mau jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.
      Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga.
Dalam hatiku pun terasa hangat seketika.
        Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi seorang pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini.
        Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.
        Jika anakku besar nanti, dia pasti menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang gemar membantu, tetangga yang ramah dan baik.
        Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

  
(Ilustrasi gambar, sumber : www.nusareborn.in)
Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi meski dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah
Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
– Khalil Gibran
Kisah ini juga di tulis di beberapa milis.

Thursday, February 21, 2013

Pocong di Pos Jaga

            Kejadian ini saya alami sekitar bulan januari kemarin, lupa tanggal berapa dan hari apa, tapi saya sedikit inget jamnya, waktu itu sekitar pukul 10:00pm, percaya atau ga percaya itu terserah kalian ya, saya cuma ingin share kejadian ini, berikut kejadiannya.

            Pada saat malam itu saya lagi mengerjakan tugas kuliah bahasa Inggris, saya hanya mengumpulkan beberapa gambar untuk maju didepan kelas besok. Saya ingat betul, saat itu tugas yang saya cari mengenai cara mendaftar di Twitter (How to sign up to twitter), simpel memang dibandingkan dengan temen-temen sekelas yang lebih memeragakan praktek kedepan seperti membuat sebuah minuman jus dan lain sebagainya, sedangkan saya hanya menampilkan gambar sambil menjelaskan dengan bahasa inggris. Setelah beberapa saat, akhirnya semua gambar yang dibutuhkan terkumpul, sekitar 8 lembar kalau tidak salah. Saya beristirahat sejenak dengan tidur-tiduran sambil sesekali menyimak berita yang ada di Tv one, tiba-tiba mata saya melirik jam didinding, saya agak terkejut, ternyata jam sudah menunjukkan pukul  10:00pm lebih (seingat saya), saya pun buru-buru berganti pakaian, memindahkan data yang dibutuhkan untuk mau diprint ke flashdisk yang saya punya, kemudian saya pun mematikan televisi dan lampu kosan.

            Setelah beberapa saat saya pun mengunci pintu kosan, sebelum berangkat saya pun mencoba mengecek yang hendak dibawa yaitu flashdisk, uang, dan kunci. Kebetulan saya lagi sendirian, dan kakak sedang tidak ada di kosan sehingga saya terpaksa jalan kaki kedepan mencari warnet yang menyediakan jasa ngeprint, entah kenapa saya pun tidak minta ditemenin dengan temen kos-an yang lain (selalu terbiasa sendirian, tapi bukan sok berani ya), saya pun berjalan agak sedikit terburu-buru,  ya itu karena jam sudah larut malam. Entah kenapa baru sekitar 20 meter berjalan, bulu kuduk saya terasa berdiri, saya ingat betul itu bukan malam jum’at (Spooky night) tapi saya tetap saja cuek, ya saya hanya tidak mau rasa takut menyelimuti pada saat itu, karena dipikiran saya hanya mau ngeprint nih tugas sudah itu selesai, saya pun tetap melanjutkan perjalanan. Sesampai di persimpangan (simpang tiga) tiba-tiba jalan saya agak melambat, saya juga melihat diseberang irigasi, saya tahu betul disana ada beberapa kuburan saja yang kalau disiang hari bisa tampak terlihat, tapi entah kali ini apa yang membuat saya begitu seksama melihat lurus kedepan padahal hanya nampak kegelapan dan beberapa pohon tinggi, saya pun belok kekiri di depan mata ada sebuah pos jaga bercat warna merah darah (sekarang sudah di cat warna putih, kalau tidak percaya, silahkan datang ke Jl.Griya Poli Indah, Perumahan Poltek, bukit besar, palembang) tidak seperti biasanya, kali ini saya jalan agak sedikit menjauh dari pos jaga, begitu pas saya berjalan didepan pos jaga saya mendengar ada suara seperti menggeram (seperti orang hendak marah) tidak saya perdulikan, hanya dalam dua langkah  saya mendengar lagi suara yang sama, kali ini saya sudah begitu merinding, pas begitu langkah keempat suara itupun semakin keras saya pun menoleh ke pos jaga tersebut karena penasaran, Subhanallah! Percaya atau tidak percaya, ada sesosok pocong samar-samar sedang berdiri didalam pojok kiri dinding pos jaga tersebut. Sungguh rasanya saya mau pingsan saat itu, badan terasa lemas, sambil bergemetar saya melafalkan ayat kursi berkali-kali sambil berjalan agak lebih cepat, sungguh saya benar-benar tidak percaya apa yang barusan saya lihat tadi, seingat saya sekitar baru 10 langkah berjalan, saya kembali menoleh kebelakang ingin memastikan apa yang sudah saya lihat tadi, Astagfirullah, pocong itu masih berdiri disana, kali ini saya agak sedikit berlari (saya tidak mau berlari kencang, karena saya yakin itu akan memperburuk keadaan, setahu saya setanlah yang sebenarnya takut sama manusia, jadi saya mencoba mengendalikan diri saya ketika itu), tak lama kemudian saya pun sampai ke sebuah persimpangan, saya pun belok kekiri saya lihat banyak warung yang sudah tutup saat itu, namun syukurlah ada sebuah warung yang biasa saya kunjungi, saya pun memesan sebuah model dengan es segar sari, tubuh saya pun masih bergemetaran, saya hanya ingin menenangkan dan menghangatkan tubuh sejenak (tapi malah pesen es segar sari), karena kala itu tubuh saya sudah sangat dingin karena ketakutan, saya pun takut jika jatuh sakit esoknya. Orang yang pertama kali saya kasih tahu kejadian seketika itu adalah pacar saya sendiri, saya pun langsung mengetik sms, memberitahu apa yang barusan saya alami, alhasil pacar saya pun cemas dan menyuruh saya bergegas untuk pulang. “Hah?? Pulang??” dalam hati saya bagaimana mau pulang, lah jalan satu-satunya untuk pulang ya lewat jalan tadi, ya karena cowok, logika saya tetap saja berjalan, saya tetap berniat mau ngeprint nih tugas, kalau sudah baru mikirin bagaimana untuk pulang, pacar saya pun akhirnya menyerah, dia hanya berpesan hati-hati dijalan dan selama perjalanan dia meminta saya untuk tetap kontak dengannya. Setelah selesai makan saya pun melanjutkan perjalanan, “bismillahirrohmanirrohim”, badan saya pun sudah agak mendingan sudah terasa sedikit hangat, perjalanan saya tinggal setengah lagi, selama dijalan saya terus saja berzikir memohon perlindungan kepada Yang Maha Esa dan tetap bersmsan dengan pacar saya.

            Alhamdulilah sampai juga ditempat warnet setempat (samping universitas sriwijaya), disana pun ada jasa ngeprint, saya pun mengeprint tugas kuliah saya. Kini tibalah saat dimana saya mulai memikirkan bagaimana untuk sampai dikos-an, selama perjalanan saya melirik sekitar, berharap masih ada beberapa tukang ojek yang masih mencari nafkah, namun tidak ada satupun tukang ojek bahkan di sebuah pangkalan ojek setempat. Saya pun semakin kebingungan, entah kenapa tidak kepikiran untuk minta dijemput kakak, sampai tibalah saya di persimpangan yang dekat warung tadi saya makan, saya berhenti berjalan, melihat lurus kedepan begitu  gelap, entah kenapa lampu-lampu jalan yang biasa dihidupkan tapi malah mati, kala itu saya tetap berzikir dan berdoa supaya ada pertolongan. Alhamdulillah, tiba-tiba ada sebuah mobil taksi blue bird yang berbelok di persimpangan ini, saya pun buru-buru membuntuti mobil tersebut dari belakang, mobil tidak terlalu berlaju kencang karena memang jalan disini masih tanah dan berlubang-lubang, masih tetap berzikir dan bersyukur, karena do’a saya didengar oleh Allah SWT, kini terlihat jelas pos jaga tersebut karena terkena lampu mobil taksi, saya pun terkejut bahwa mobil tersebut juga berhenti tepat didepan persimpangan jalan ke kos-kosan saya, dan saya melihat sekilas orang pertama yang keluar dari mobil tersebut, ternyata kawan depan kos-an saya. Akhirnya saya pun sampai di kos-an, buru-buru menghidupkan lampu kamar dan terguling lemas di kasur, terdengar suara bercakap-cakap tepat didepan kos-an saya, “mungkin itu mereka tadi” benakku, saya pun memejamkan mata sejenak.
            Keesokan harinya, sampai beberapa hari saya menjadi agak lebih pendiam, barulah sekitar 3 hari saya menceritakan kejadian yang saya alami pada saat malam itu ke teman kos-an didepan kos-an saya, begitupun juga di kampus, di kampus pun akhirnya kami saling bercerita mengenai kejadian-kejadian menakutkan yang pernah dialami juga.

            Terima kasih yang sudah mau menyempatkan waktunya untuk membaca kejadian yang pernah saya alami ini, percaya atau tidak percaya itu semua terserah kalian, saya juga memang percaya, alam ghaib itu memang ada. Tetap memohon perlindungan kepada Yang Maha Esa, Allah SWT (bagi yang beragama islam), sekali lagi terima kasih sudah berkunjung ke blog saya, see you in the next post.

Wednesday, February 20, 2013

Sang Presiden Pertama Republik Indonesia

              Siapa sih yang tidak kenal dengan presiden pertama indonesia (ndeso! buat yang tidak mengenal sosok soekarno). Sang presiden pertama Republik Indonesia, dialah Soekarno (nama asli Koesno Sosrodiharjo), beliau lahir di Surabaya, jawa timur. Pada tanggal 6 Juni 1901. Menjabat menjadi presiden selama periode 1945-1966.

Gambar Perangko Negara tetangga yang ada gambar Soekarno:



Di Negara Adidaya

          Presiden Sukarno baru tiba di bandara Washington DC, AS, pada siang hari. Didampingi oleh wakil presiden AS, Richard Nixon, Bung Karno disambut penuh oleh pasukan AS dengan 21 kali tembakan kehormatan. Bung Karno tiba di Washington dalam rangka kunjungan selama 18 hari di AS atas undangan Presiden AS, David Dwight Eisenhower (Foto: 16 Mei 1956).



             Presiden Sukarno dan Presiden AS, Kennedy, duduk bersama di dalam mobil terbuka, sedang melewati pasukan kehormatan di pangkalan Angkatan Udara AS, MD. Bung Karno datang ke AS dalam rangka pembicaraan masalah insiden Kuba (Foto: 24 April 1961).

Bersama Mantan negara penjajah


               Presiden Sukarno menjadi tamu kehormatan Kaisar Jepang, Hirohito, dan pangeran Akihito. Bung Karno dijamu makan siang di istana kekaisaran Jepang di Tokyo (Foto: 3 Pebruari 1958).

Menjadi cover majalah TIMES tahun 1946


Go International


              Presiden Sukarno berdiri berdampingan dengan 4 pemimpin negara Non Blok setelah mereka selesai mengadakan pertemuan. Dari kiri kekanan : Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Kwame Nkrumah (Presiden Ghana), Gamal Abdul Nasser (Presiden Mesir), Bung Karno, dan Tito (Presiden Yugoslavia). Kelima pemimpin negara non blok ini mengadakan pertemuan yang menghasilkan seruan kepada Presiden AS, Eisenhower (Presiden AS) dan Perdana Menteri “Uni Soviet”/Rusia, Nikita Khruschev, agar mereka melakukan perundingan diplomasi kembali (Foto: 29 September 1960).


Presiden Sukarno bersama Perdana Menteri Perancis, Pompidou (Foto: 1965).


                Presiden Sukarno sedang bercakap-cakap dengan Presiden Kuba, Osvaldo Dorticos Torrado (kiri), dan Perdana Menteri Kuba, Fidel Castro (kanan) di Havana, Kuba (Foto: 9 Mei 1960).


          Presiden Sukarno tiba di bandara Karachi, Pakistan. Didampingi oleh Presiden Pakistan, Iskander Ali Mirza, Bung Karno tampak sedang memberi hormat, diapit oleh bendera Indonesia dan bendera Pakistan (Foto: 25 Januari 1958).

Photos Collection (edisi ke-1)

        Pada postingan ini, saya menampilkan hasil jepretan dan editan my profesional content creator yang tak lain adalah kekasih saya sendiri (suitt suitt hahaha), kami berharap Photos Collection akan terbit weekly, dan baru diterbitkan minggu ini, berikut fotonya (baru satu foto yang dihasilkan) :


Finger Face


Monday, February 18, 2013

Thank You

        Saya mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya bagi pengunjung yang telah mampir di blog sederhana saya ini, sebenernya ini blog kedua setelah saya mengalami amnesia untuk blog yang pertama, umurnya udah dua tahunan lebih, ya lumayanlah banyak thread yang bermanfaat juga di blog pertama tersebut. Blog ini sebenernya dibuat selain sekedar untuk mengisi waktu luang disela-sela kesibukan, juga untuk berbagi informasi mengenai hal apapun kepada siapa saja yang membutuhkan, serta untuk mengasah kemampuan menulis saya yang amburadul ini.

        Jika ada hal yang ingin ditampilkan atau dipublikasikan, para pengunjung dapat comment, nanti saya akan berusaha untuk mewujudkannya. Asal, permintaan tersebut tidak menyangkut SARA.

Sekali lagi, matur nuhun, selamat menikmati tulisan amburadul saya. (hehe)
Follow Google+

@Dori_Saka